Refleksi Seusai menonton Film Gie

soe-hok-gie

Pernah terpikir sebenarnya apa yang salah dengan negeri ini? Walaupun keliatan dari post-post saya, saya suka sekali dengan kpop, kdrama, dan make up, saya juga sering memikirkan hal tersebut lho. Baiklah, mungkin sedikit flashback, saya adalah seorang perempuan kelahiran tahun 1993. Sampai, SMA selesai setidaknya, saya menganggap negeri saya payah, dan luar negeri manapun, akan lebih bagus dari negeri ini.

Dan, ya, singkat cerita sebuah kesempatan exchange student membuka pandangan saya. Sejak saat itu saya bisa melihat Indonesia itu, sangat cantik, sangat unik, dan sangat layak untuk dibanggakan. Dewasa ini, mungkin kita bisa melihat keadaan yang lebih baik, maksud opini saya dalam hal ini adalah sektor ekonomi, dan kesejahteraan rakyat tentunya. Saya sangat sadar mengapa negeri saya ini, susah majunya kalau dibandingkan negara-negara Eropa, Korea, atau bahkan Malaysia. Satu analisis kecil (sedikit sok tahu memang) saya mengenai hal ini adalah satu kelebihan dan juga kekurangan Indonesia, wilayah yang luas, dengan suku yang sangat beragam. Ditambah lagi, Indonesia memiliki tingkat religiusitas yang tinggi atau paradox (kalau yang ini dari buku Yuswohady Marketing in Middle Class Muslim). Pertanyaan mengapa mengapa, ini kadang menggelitik saya, sebenarnya sejauh apa negeri ini melangkah.

Pertanyaan tersebut, tentu akan terjawab dengan melihat sejarah proklamasi dan kolonialisme Indonesia. Materi pelajaran Sejarah, yang saya temui dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas. Sebenarnya, materi tersebut hanya bersliweran saja, nyangkut di kepala atas dasar cari nilai. Saya baru kagum sekarang, dulu bagaimana bisa proklamasi terjadi, dengan wilayah yang sangat luas ini, komunikasi yang belum secanggih sekarang, dan kondisi negara yang masih banyak campur tangan Belanda.

Setelah kemerdekaan terproklamasikan, hal yang tidak kalah sulit adalah mempertahankanya. Agresi militer, seingat saya dua kali terjadi. Selanjutnya, tentu saja insiden PKI. Kalau boleh jujur, saya dulu tidak mudeng, mengapa mereka harus dibantai, dan bahkan sampai pada sebelum nonton film ini dan setelahnya saya belum mudeng sepenuhnya.

Gie, sedikit menggelitik hati saya, sebagai mahasiswa apatis yang sering blibet dan rempong dengan urusan-urusan diri sendiri. Dalam hati saya sebenarnya tahu, tanggung jawab jika kita telah mampu mengenyam pendidikan tinggi adalah berjuang atas nama rakyat. Ya, bahkan dijaman sekarang ini, yang notabene sudah reformasi.

Sebagai mahasiswi fakulas ilmu sosial dan politik, saya masih bingung lho apa tujuan didirikanya PKI sebenarnya. Refleksi yang saya dapatkan dari film ini adalah, partai ini didukung oleh Presiden Soekarno, dan dulu digadang-gadang. Sampai suatu gerakan menginginkan Presiden Soekarno turun, karena banyak ketidakadilan seperti harga sembako naik, pengangkatan presiden seumur hidup, dan lain-lain. Akibat pergolakan tersebut Presiden Soekarno jatuh, dan Presiden Soeharto diangkat. Setelah itu militer berkuasa, PKI ditumpas, yang menurut hasil gogling saya, Soeharto secara sepihak menuduh PKI, tuduhan tentang apa saya juga kurang jelas.

Pembantaian besar-besaran terjadi setelah itu, saya sempat ngeri juga melihat penggambaran peringkusan PKI dan pembunuhan lebih dari delapan ratus jiwa di Bali. Jauh dari gambaran manusiawi, karena sepertinya mereka yang sudah di cap PKI sangat boleh untuk diperlakukan seenaknya. Apa pikiran petinggi-petinggi kita pada saat itu ya?

Menurut hasil googling saya, mereka dibunuh dengan menggunakan pedang (berbeda dengan film yang ditembak). Banyak yang dijarah, diperkosa, dan yang lain-lain. Nyawa seolah sangat murah. Saya pernah menonton sebuah diskusi youtube yang menyatakan negara juga ikut andil dalam tragedi ini.Ada sumber yang menyebutkan, sungai di Surabaya sampai tersumbat, karena jenazah. Bapak saya juga menambahkan, dulu Bengawan Solo dijadikan “tempat pembuangan” hal itu yang menyebabkan volume airnya sempat naik banyak.

Saya mencoba menambah referensi dari keterangan bapak saya. Kebetulan Kakek saya, dulu ikut berjuang. Bapak saya, aslinya Karanganyar Solo, cukup dekat dengan basis PKI di Madiun. Kata Bapak, dulu PKI itu mendatangi setiap rumah, di suruh ikut partainya, kalau tidak mau akan bermasalah (kehilangan nyawa,dll), seketika keadaan berbalik. Pasukan militer mendatangi setiap RT, menanyakan warga yang bergabung PKI, untuk langsung diciduk. Satu lagi, dengan kondisi yang chaos ini sangat mudah memfitnah orang sebagai PKI.

Iya, negara membiarkan hal ini terjadi. Film Gie, berat sih menurut saya. Bahkan kegantengan Nico disini, tidak terlalu menghibur, dan bahkan saya ikut mikir. Gie di sini, terlihat sekali hidupnya tidak tenang, jika hanya diam menekuni hobi, dipaksa untuk ikut bertindak. Namun jika bergabung dengan pergerakan tersebut, ditangkap dan mati bisa datang kapan saja.

Sejarah yang sangat kelam itu, sampai sekarang rasanya masih ditutup-tutupi oleh negara ini. Aparat pemerintah kah? atau negarakah yang bersalah? saya juga tidak bisa memilih. Yang pasti, harus ada pihak yang meminta maaf, maaf atas kekhilafan yang entah disengaja atau tidak terhadap pembantaian besar ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s